Balada Remedial Esbeka


Pagi itu , gue lagi nyeduh sereal sarapan instan di dapur sendirian , sementara Bapak gue lagi sibuk nyiapin dirinya buat ngambil Rapor nilai semester ganjil gue di sekolah sendirian. Bukannya gak mau nemenin dia kesana , gue gak ikut kesana karena gak mau dimarahin dia karena nilai gue yang menurun , feeling gue mencoba menyelamatkan gue saat itu.

“Yakin gung , gak mau ikut ?”. Katanya.

“Gak mau , mending dirumah , hemat listrik”. Jawab gue sambil ngaduk sereal sarapan instan pake bungkusnya. Entah kenapa gue jawab seperti itu , tapi yang pasti gue tetep gak mau berubah pikiran.

“Ohh , oke deh”.

Jawab Bapak gue dengan nada datar , seakan gak denger apa yang anaknya barusan katakan. Setelah dia berbicara , dia langsung mengenakan jaket pavoritnya yang tergantung di kapstok dekat dapur , dia langsung  keluar rumah dan berangkat ke sekolah menggunakan motor matic yang biasa gue gunakan untuk hal yang sama , dia berangkat tanpa berbicara sepatah katapun ke gue , persis sama seperti yang gue lakukan setiap berangkat ke sekolah. Memang ya , buah tidak akan jatuh ke lain hati . Maksudnya , tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Gue terdiam sejenak , kemudian meminum sereal sarapan instan yang sudah mulai dingin sambil berjalan ke kamar gue yang sudah hampir mirip sama pesawat yang ditembak pake rudal di Samudera Hindia. Gue simpan gelas bekas sereal di meja belajar kemudian tiduran di kasur sambil melipat tangan ke belakang kepala . Setengah jam kemudian , gue tidur disana.



Beberapa jam kemudian , gue bangun dari tidur dan menyadari bahwa Rapor gue udah ada di meja belajar gue saat itu. Gue beranjak dari tempat tidur , berjalan beberapa langkah mendekati meja belajar kemudian membukanya lembar-per-lembar. Gue kaget , ada nilai gue yang merah , yaitu pelajaran SBK. Gue bengong , kemudian lanjut tidur untuk menikmati liburan akhir semester ganjil gue.

Berminggu-minggu gue memikirkan kenapa nilai gue ada yang merah. Perasaan gue gak pernah gak ngerjain tugas , gak pernah bolos , dan gak pernah bikin baper perasaannya guru gue di kelas kayak gini.

“Anak-anak , kerjain tugas di LKS halaman 53 ,yaa!”.

“Kok , di buku saya gak ada halaman 53,yaaa bu?”. Ucap gue.

“Ah bohong , tuh sih ada”. Jawab guru gue , sambil nunjuk halaman 53 di LKS.

“Oh iya bu , Cinta itu buta sih”.




Tak terasa , hari liburan sudah habis dan esok gue udah mulai masuk lagi ke sekolah. Memang aneh rasanya , ketika sekolah pengen libur , eh udah libur pengen sekolah , pas mau sekolah lagi malah pengen liburnya diperpanjang. Dasar pelajar , Pelajar labil.

Ketika masuk sekolah lagi , banyak yang berubah dari penampilan temen-temen gue. Ada yang pake tas baru , sepatu baru , sampe gaya rambut baru. Kalo gue ? semangatnya yang baru. Walaupun seperti itu , gue tetep bingung kenapa nilai gue ada yang merah . Ternyata , bukan cuma nilai gue yang ada merahnya , hampir 50% siswa di kelas gue nilainya ada yang merah , merahnya juga macam-macam , ada yang merah biasa , merah muda , merah tua , merah maroon , maroon five , dan lain-lain. Oke , yang tadi tidak penting.

Tiga hari setelahnya , seperti biasa sesudah habis jadwal pelajaran hari itu , pasti ada jadwal buat kesiswaan gitu , jadi diadain pertemuan antara wali kelas sama siswanya buat nge-cek apakah kehadirannya bagus , nilainya baik , dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika juga stabil. Dan ketika kesiswaan saat itu , nama-nama siswa yang nilainya merah itu dipanggil-satu-per-satu.

“Andika?”. Ucap wali kelas gue.

“iyaa pak?”.

“Gimana band kamu ? laku?”. Dia bertanya, lagi.

“ma.. maksudnya pak? , saya gak main band”.

“oke , lupakan yang tadi. Gini dik , nilai kamu ada yang merah kan?.

“iyaa pak , ada tiga yang merah. Hatrick pak , hatrick”

Semerdeka kamu aja , dik. Cepat perbaiki yaaa”. Ucap dia , dengan nada kebapak-bapakan.

“hhmmmm . Agung Rizqi ?”. dia berbicara , lagi.

“saya pak!”.

“seperti ini Gung , nilai kamu itu bagus. Kamu juga masuk 10 besar di kelas. Tapi sayang...”

“sayang apa pak , pak guru sayang sama sayaa?”. Ucap gue , memotong pembicaraannya.

“BUKAN , BOSQUE!!”. Jawab dia , pake bahasa dan logat gaul.

“Terus?”.

“Tapi sayang , nilai kamu ada yang merah. Cepat perbaiki yaa. Oh iya , follback twitter bapak yaa. Nama twitternya @Aqzaekq230w “.

“Euu , itu nama akun atau kode booking , pak ?”.






Setelah memastikan bahwa nilai gue bener-bener ada yang merah , keesokan harinya gue langsung mau perbaiki karena kebetulan juga ada jam pelajarannya . Ketika di rumah pun gue sempet-sempetin buat belajar Seni budaya, siapa tau kan remedial-nya itu ngerjaiin soal , pikir gue saat itu.

Ketika keesokan harinya , Guru yang gue tunggu kedatangannya buat remedial itu gak dateng , yang lain senang , gue malah sedih. Itu sama aja kaya denger beritanya Duo Srigala yang mau umroh. Gak nyambung ? biarin.

Tetapi , daripada berlarut-larut dalam kesedihan , gue memilih untuk tidak memikirkan tentang nilai remedial , toh nilai yang merah itu cuma satu , yang merahnya banyak juga biasa-biasa aja , paling kena serangan jantung.

Hari demi hari berlalu , tetapi guru yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang juga , untuk pertama kali gue sedih karena guru yang ngajar itu gak datang. Akhirnya , pada seminggu sebelum waktu remedial-an berakhir , guru seni budaya yang ngajar di kelas gue itu masuk , tetapi gue malah tambah sedih.


“Kok , gurunya beda , yah ?”.


Sial , ternyata guru yang beberapa minggu gue tunggu-tunggu itu memutuskan untuk resign . Dan penggantinya itu yang lagi ngajar kelas gue sekarang , Namanya ibu Budi ( Nama disamarkan ) , beliau adalah guru yang hebat di bidang yang sama seperti guru gue sebelumnya , tetapi ada satu yang gue kurang suka dari dia : kalo ada siswa yang ngomong jorok ( entah sengaja maupun sebaliknya ) itu dikenakan denda uang 20 ribu rupiah , dan setelah gue amati , harga nasi uduk di kantin sekolah gue itu 5 ribu rupiah per bungkus , jadi kalo ada satu siswa yang ngomong jorok di kelas , berarti ada 4 orang siswa juga yang hampir mati kelaparan.

Terlepas dari itu semua , gue dan temen-temen senasib yang tergabung di komunitas APRDS ( Anak-anak Penerima Remedial di Sekolah ) itu masih tetep berusaha untuk memperbaiki nilai yang masih kurang , termasuk nilai Seni budaya yang gurunya udah beda. Tapi , ketika gue dan anggota APRDS lainnya mau memperbaiki nilai ke ibu Budi , dia malah bilang.

“Ibu  pikir-pikir dulu , yaaa”.

Huh . Semua wanita memang sama saja , kecuali nenek gue , dia jago banget main futsal.

Jujur , gue sedih , sedih karena waktu remedial-an sudah hampir habis dan sedih karena mendengar jawaban dari wanita dengan kalimat : “pikir-pikir dulu , yaaa”. Gue trauma dengan jawaban itu , apalagi ketika yang ngomong seperti itu ialah mantan gebetan gue.

Hari yang gue tunggu-tunggu itu tak kunjung datang , Setiap pelajaran SBK dan gue tanya tentang remedialan ke ibu Budi , dia selalu mengelak , nanya dulu ke guru sebelumnya lah , pikir-pikir dulu lah , makan dulu lah , bangun candi dulu lah . Pokoknya , selalu ada alasan yang terucap dari mulut beliau.

Ketika deadline udah mau datang , Tak  ada angin tak ada gebetan , ibu Budi tiba-tiba aja ngasih tugas nyari buku paket SBK dari dua penerbit yang berbeda yaitu penerbit Erlangga dan Yudhistira kepada gue dan anak lainnya sebagai penebus nilai kami yang kurang di semester satu . Untungnya , buku yang harus kami dapatkan dan berikan pada dia itu hanya dua buah . Jadi , untuk menghemat waktu sebelum hari remedialan habis , kamipun dibagi menjadi dua kelompok yang sama rata. Kelompok gue ada 7 orang , kelompok yang satunya lagi ada 12.456 orang , Eh enggak ding , 7 orang juga.

Tetapi , Kelompok yang satunya yang dipimpin oleh si kampret Bagas (Nama disamarkan) itu malah ngambil keputusan seenak jidatnya. Mereka memilih untuk mencari buku paket SBK kelas sepuluh dari penerbit Erlangga yang kata kebanyakan orang itu mudah untuk didapatkan , sedangkan yang satunya lagi dibebankan ke kelompok gue . Huh! , ingin rasanya berkata kasar , tapi tak boleh , soalnya nanti di denda 20 ribu oleh ibu Budi yang akibatnya akan ada 4 siswa yang hampir mati kelaparan.

Bener kata kebanyakan orang , memang gampang mencari buku paket SBK dari penerbit itu , sekali nyari aja udah dapet bukunya . Lah gue , hampir mati kelaparan aja belum dapet , karena kebetulan saat itu ada temen gue yang ngomong kasar dan didengar oleh telinganya ibu Budi , jadi gue dan 2 orang lainnya nombokkin gitu goceng-goceng , itulah penyebab dari kelaparan yang diderita oleh 4 orang siswa akibat ucapan. Andai saja peraturan ini berlaku di seluruh Indonesia , gue yakin tuh Young lex dan Awkarin berhasil membuat para pedagang nasi uduk di Indonesia penghasilannya berkurang secara drastis. Biarlah , “Masih di batas wajar” inih . asal jangan pake narkoba , aja. Cakep!.

Kembali lagi ke masalah remedialan , sampai dua hari sebelum waktu remedialan habispun bukunya belum ada di tangan kami. Gue bingung mau nyari dimana lagi , masa harus datang ke penerbitnya , lalu gebrak meja kantornya sambil teriak-teriak.

“Mas ! ada buku paket SBK kelas sepuluh , gak ?!” . Teriak gue , cool banget.

“Saya Mba-mba!”.

“Oh iya maaf , ada gak ?”.

“Gak ada !”.

“Makasih! ”.

“Pintu keluarnya dimana ?!”. Tanya gue.

Semakin mendekati deadline-nya gue semakin bingung , masalahnya bukunya belum dapet dan kampretnya anggota kelompok gue itu gak ada yang bisa diandalkan untuk ikut mencari bukunya dengan berbagai alasan , ada yang banyak kegiatan lah , turnamen futsal lah , nyalonin jadi kepala daerah lah . Pokoknya , banyak alasannya , deh.

“Gas , gue minta bantuan lo , yak !”. Ucap gue kepada Bagas , temen remedialan gue tapi beda kelompok.

“Bantuan apa ? nombokkin goceng , lagi ?”. Tanya dia , songong.

“Bukan soal itu , Gas.”.    
   
“Bantuan apa nih ? Kalo nombokkin goceng buat beli buku , gue gak ada anggaran ,  ya!”. Jawab dia , tambah songong.

“Bantuin gue yaa cari buku ! “.

“Di toko buku ?”.

Hening.

“Euu , lo waktu kecil diimunisasi gak , sih ?”. Tanya gue , dalam hati.

“Yaiyalah ! yakali di gedung pemerintahan !”. Lanjut gue.

“Oh iya , ya.  Beli buku itu di toko buku , kalo di gedung pemerintahan itu…… jual beli jabatan”.

Ow.

“Gimana ? , bisa kagak ?”. Tanya gue lagi , memastikan.

“Euuu , enggak bisa boy”. Jawab dia santai.

“Oh iya , gapapa”.

 Mendengar jawaban seperti itu dari Bagas , gue gak tinggal diam . Disela-sela waktu istirahat , gue liatin muka temen-temen gue di kantin buat nentuin siapa yang paling pas buat diminta bantuannya. Gue liatin satu persatu wajah mereka dan berbicara dalam hati :

“Euuu , dia lagi nyemil yang murah , pasti gak ada duit!. Repot!.”

“Kalo yang satu ini lagi diem aja , Pasti lagi pengen boker , deh”.

“Nah , dia punya banyak duit , tuh. Yah , ternyata ibu kantin”.

Ternyata susah ya minta bantuan sama tem...

“Gung!”.

“Apaan Gung ?”. Tanya gue kepada Agung Yudishtira , kembaran gue yang cuma sama namanya doang , nama depannya doang tepatnya.

“Kenapa muke lu ? Pucet banget , kayak yang mau mati”.

“Woy! ditanya malah bengong!”. Tanya dia lagi .

“Woy! Wah , jangan-jangan mati beneran ni bocah“.  Lanjutnya.

“Innalilla...

“Gue belum mati , pret!” . Jawab gue , menghentikan ucapannya.

“Terus kenapa ?”.

“Gakpapa”.   Jawab gue , di dalam hati.

“Euu , sebenarnya gue mau minta bantuan lo , boleh ?”. Lanjut gue

“Nombokkin goceng , lagi ? yang kemaren aja belom lunas”.

“bukan yang itu , lo bisa temenin gue ke toko buku , gak ?”.

“Euu , tapi pake motor lo , yak!”.

“Oke , deh”.

Mendengarkan jawaban seperti itu , gue jadi seneng sekaligus sedih , senengnya ada yang nemenin gue nyari buku , sedihnya....nyari bukunya dimana ? . Sebagai generasi zaman sekarang , gue menggunankan gadget untuk mencari toko buku di dekat-dekat sini. Dan tak butuh waktu sampai Jam Gadang berubah profesi menjadi jam tangan , lokasi toko buku-pun sudah gue ketahui , Gue dan Agung Yudish-pun saat itu pergi kesana menggunakan sepeda motor gue , tetapi dia yang mengemudikannya , sedangkan gue menunjukkan arah di jok belakang.

“Kearah mana lagi nih , gung ?”. Katanya.

“Belok Kiri!”.

“Siap...”

“Kiri bego!” . Lanjut gue.

“Oh iya , maaf”.

Susah memang kalau mau ke tempat yang sama sekali belum kita kunjungi , itu juga yang gue alami bersama si Agung di perjalanan. Drama itu bukan Cuma di sinetron doang ternyata , ketika naik sepeda motor-pun ternyata drama masih bisa masuk dan mengacaukan semuanya. Mulai dari salah belok , google map-nya lemot , gerimis yang menemani perjalanan , hingga gebetan yang susah diajak jadian. 

Tak berhenti sampai disitu , semakin mendekati ke toko buku yang kami tuju , hujannya malah semakin deras. Kami yang saat itu masih pakai seragam sekolah harus rela kebasahan , tas sekolah gue-pun gue korbankan menjadi penutup kepala dadakan untuk melindungi kepala gue dan handphone si Agung yang gue pinjam .
Saat itu , gue akhirnya tau untuk mendapatkan sesuatu itu butuh pengorbanan , juga banyak rintangan yang harus gue lewati . Seperti dinginnya hujan yang menemani gue , dinginnya sangat mirip dengan sikap gebetan.  

Sore itu , diperjalanan juga kami ditemani oleh suara-suara mobil besar yang melewati kami , bunyinya sangat bising memecah rintik hujan kala itu . Bunyinya seperti patah hati yang pernah gue rasakan.

Benar kata orang , hujan adalah salah satu suasana yang sangat tepat untuk bergalau-galauan , karena disetiap jatuhnya tetesan air ke bumi itu menghasilkan sebuah genangan , juga mengingatkan kembali sebuah kenangan.

“Woy!”. Teriak Agung yudish , memecah keheningan.

“Apaan?”.

“Udah sampe nih , pret!”.

“Ini dimana ?”.

“Gramedia”. Katanya.

“Yaudah , parkirin deh motornya “. Ucap gue , sambil turun dari motor . “Gue nunggu disini.” Lanjut gue. Agung yudish mengangguk tanda setuju , sedangkan gue menunggu disini , di depan pintu masuk Gramedia yang mulai sepi.

Di depan pintu masuk Gramedia , sesekali gue merapihkan seragam sekolah gue yang mulai lusuh terkena air hujan . Gue baru inget , ternyata gue bawa jaket bomber warna hitam polos ke sekolah yang disimpan di tas . Tanpa pikir panjang , gue langsung pake itu jaket di depan pintu masuk Gramedia. Tidak lupa , gue juga merapihkan rambut gue yang lepek karena terlalu lama menggunakan helm. Karena sangat penting hukumya untuk merapihkan penampilan sebelum masuk ke Gramedia . Kalau tidak , nasib gue bisa berakhir dengan diusir satpamnya.

Tak lama setelah itu , Agung Yudish datang dari parkiran yang terletak di lantai bawah Gramedia , penampilannya sangat berbeda . Ia nampak sangat seperti abege-abege pada umumnya . Dia juga ganti baju di toilet dekat parkiran , penampilannya sangat keren. Sangat berbeda jauh dengan penampilan gue yang lebih mirip seperti anak SMK yang gak lulus ujian nasional 2 kali. Pucet abis.

Kami berdua-pun langsung masuk ke Gramedia tanpa mengucapkan salam . Di lantai ini ternyata bukan tempatnya buku-buku di jual , tetapi tempat menjual barang-barang lain , ada juga tempat makan di dalamnya.

“Mampus gue!”. Ucap Agung Yudish , nampaknya ada yang salah saat itu.

“Kenapa ?”.

“Ada Rahma disini , sama temen-temenya” Katanya . Rahma adalah mantan pacar si Agung yudish yang pernah diceritakan dulu ketika kami baru menjadi teman sekelas . Iya memang , anak SMK kalau curhat itu sama laki-laki , karena laki-laki pendengar yang baik dan pemberi solusi yang baik , bukan penggosip yang baik.

“Mampus! Dia nyamperin kita!”.

“Oke , tenang aja . Slow”.

“Oke”. Katanya . Sambil menelan ludahnya sendiri.

Tak lama , Rahma mendatangi kami bersama teman-temannya. Rahma lalu bertanya kepada Agung yudish.

“Lagi ngapain , gung?”.

“Euu , lagi nyari buku!”. Jawab dia , gugup.

“Buku kan di lantai atas”.

“Iya , gue juga tau”. Agung yudish berbohong.

Rahma mengangguk , Teman-temannya ikutan mengangguk sambil berkata ‘oh’ dengan nada pelan secara bersamaan. Terjadi keheningan beberapa detik . Kemudian Rahma melihat Gue , melihat Agung yudish , melihat Gue lagi , lalu bertanya kepada Agung Yudish.

“Dia siapa ?”. Tanya Rahma , sambil menunjuk gue.

“Dia...”

Belum selesai dijawab Agung Yudish , Rahma langsung berbicara.

“Ah , palingan kang ojek yang belum lo bayar ongkosnya ya?”.

Jleb! . Saat itu , gue hanya bisa menelan ludah gue sendiri. Sedangkan Rahma dan teman-temannya langsung pergi menjauhi kami . Untuk ke sekian kalinya , harga diri gue kembali dijatuhkan oleh perempuan yang sama sekali belum gue kenal.

Kami berdua langsung naik ke lantai atas dengan cepat karena waktu sudah terlalu sore. Setibanya disana , kami disambut oleh buku-buku yang berjejer rapih di raknya masing-masing. Tak lama , penjaganya menghampiri kami , kemudian bertanya.

“lagi nyari buku apa , kakak?”. Ucapnya , sopan.

“Kami lagi nyari buku Seni budaya untuk kelas sepuluh semester dua yang diterbitkan oleh penerbit Yudishtira , mas”. Jawab gue , sambil liat contekan judul buku yang gue tulis tadi pagi dan disimpan di saku celana abu-abu ini.

Si penjaga Gramedianya mengangguk tanda mengerti , kemudian dia melangkah mendekati komputer yang tidak jauh dari tempat kami berdiri , dia mengetikkan judul bukunya di keyboard dengan sesekali melihat layar monitor. “Maaf kak , bukunya habis . Baru saja habis tepatnya”. Ucap dia , dengan raut muka yang sedikit kecewa.

Gue diam , menelan ludah gue sendiri , kemudian berkata “Tidak usah minta maaf mas , yang seharusnya minta maaf itu si Rahma”. Gue langsung melihat si Agung Yudish , gue menengokkan kepala kearah kiri menandakan ajakan untuk pulang ke rumah.




Esoknya , saat pelajaran Seni budaya berlangsung , gue sangat iri kepada kelompok si Bagas yang sudah mendapatkan buku paket seni budaya duluan , gue hanya bisa diam dan mengetuk-ngetukkan telunjuk ke meja secara cepat tanda rasa cemas.

Tak lama , kelompok remedialan gue dipanggil ke hadapan ibu Budi . Tetapi , hanya gue yang maju kehadapannya sendirian , selain karena gue yang bisa menjelaskan kepada ibu Budi , nilai matematika gue juga yang paling rendah . Karena kalau gue kenapa-kenapa , dunia tidak akan terlalu kehilangan oleh orang yang gak jago matematika . Itu tadi adalah alasan yang temen sekelompok gue berikan .   

“Buku paketnya mana , Gung ? “.

“Belum dapet , bu.”  Jawab gue , sambil menunduk. 
“Kenapa?”.

Gue kemudian menjelaskan kenapa gue gak mendapatkan buku itu dihadapannya secara detail. Setelah gue jelaskan , ibu Budi menghela nafas , kemudian berkata.

“Yaudah , gapapa kalo gak dapet bukunya . Sini aja uangnya , biar ibu yang cari”.


Jleb.


Gue menelan ludah , mengambil uang untuk membeli buku yang ibu Budi minta di saku celana , dan memberikan semuanya kepadanya.

“Maaf ya , ibu jadi ngerepotin”.

“Tidak usah minta maaf bu , yang seharusnya minta maaf itu si Rahma”. Gue langsung melihat ke arah kelompok gue , tersenyum menandakan semuanya baik-baik saja.


#BloggerBeropini : Tentang Belajar & Mengajar

Ehem . Ijinkan gue memulai tulisan ini dengan mengucapkan selamat kepada Raisa dan Hamish atas pertunangannya , gue tau banyak jomblo di Indonesia yang hampir mati mendengar berita ini , kebetulan saat mendengar berita ini para jomblo sedang main gapleh di jalan tol. Apaan sih.

Selanjutnya , gue juga mau mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Kipli , kucing peliharaan tetangga gue. Gue bener-bener gak nyangka Kipli pergi begitu cepat  . Tapi gue percaya , Kipli akan mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya . Gue sangat akrab sama dia , dia kucing yang baik . Dulu , gue sering tadarusan di Mesjid sama dia , gue di dekat mimbar , dia ngambang di selokan.

Oke serius.

Di tulisan kali ini , gue juga mau membahas sesuatu , yaitu belajar & mengajar. Kebetulan gue baru selesai UKK ( Ujian Kenaikan Kelas ) selama lima hari. Dan ketika sebelum UKK , gue heran sama orang-orang yang mulai fokus belajar karena akan menghadapi UKK . Itu kan aneh , fokus belajarnya pas mau UKK doang , ketika hari-hari biasa malah acuh sama pelajaran. Memang sih , gue sendiri juga suka males belajar di hari-hari biasa , Apalagi sama pelajaran yang gue gak suka , Matematika dan Bahasa Lumba-lumba misalnya.

Dan demi mendapatkan nilai yang memuaskan saat UKK , banyak orang juga yang menghalalkan berbagai cara seperti bikin contekan , googling saat UKK , sampai membius pengawas  pake sapu tangan yang dicelupin ke air micin. Mereka melakukan hal seperti itu  bukan tanpa alasan , karena di Indonesia orang yang nilainya tinggi lebih dihargai daripada yang moral dan perilakunya baik .

Juga di zaman sekarang , belajar itu bisa dilakukan dimana saja , baik di sekolah , di rumah sendiri , rumah temen , rumah mantan , sampai rumah mantan yang direbut temen juga bisa. Tetapi , majunya zaman juga tak menjamin apa yang seseorang  pelajari , bisa saja belajar yang tidak baik dari internet , belajar mengambil uang rakyat dan menyalahgunakan jabatan misalnya. 

Jujur , dulu gue lebih suka belajar di kelas daripada belajar dari internet , teman atau siapapun yang hebat dalam bidangnya. Tetapi sekarang malah sebaliknya , gue malah kurang suka belajar di kelas karena banya oknum pengajar yang 'maksain' muridnya buat pinter . Padahal kan bukan itu tujuannya belajar , tujuan belajar itu supaya tau dan bisa akan suatu hal. Pinter itu hanya anggapan seseorang ke orang lain yang tau banyak hal. Kalo lo sendiri udah tau , lo pasti akan bilang  'Ah , gitu doang gue juga bisa'.  

Seperti yang gue bilang tadi , mulai banyak oknum pengajar yang menggunakan cara kasar agar muridnya takut dan akhirnya nurut . Padahal sebaliknya , kalo murid takut sama yang ngajar , gimana ilmunya bisa masuk ke murid tersebut , masuk kelas aja takut. Gue tau , gak semua oknum pengajar berperilaku seperti itu , tetapi itu yang sendiri gue rasakan selama ini . Gue sendiri takut , tetapi bukan ke oknum pengajar yang kasar , tapi gue takut generasi bangsa ini menjadi generasi pendendam , mentang-mentang dulunya sering dimarahin sama guru dan ketika dirinya menjadi guru malah berbuat hal yang sama seperti gurunya dahulu. Gue takut juga para orang tua melakukan hal yang sama ke anaknya , seperti ini 

Gue tau apa yang anaknya katakan , ' INI APALAGI YAALLAH?!'.



Jujur , gue malah lebih suka sama sitem pembelajaran di Finlandia yang kegiatan belajar mengajarnya itu cuma 5 jam sehari , dan sisa waktunya bisa digunakan para siswa untuk mengembangkan minat dan hobinya. Bukan cuma itu , di Finlandia juga gak ada yang namanya pekerjaan rumah dan juga ujian . Beda dengan Indonesiaku tercinta ini , sudah banyak PR , ada Ujian Nasional pulak! dan rumornya UN di tahun 2018 akan kayak gini 

Sumber tertera | 'INI APA LAGI YAALLAH?!!'

Tetapi , itu semua hanya opini gue sebagai blogger , bisa saja gue salah . Tapi yang pasti , gue tetep mencintai bangsa ini , juga kamu. Iya , kamu.

Gue tau tadi kalian muntah-muntah seketika . Gapapa . Gue terima. Bye ! I'm Agung Rizq , Peace out! \o/